blog-indonesia.com

Sabtu, 28 Maret 2009

Musibah Tanggul Situ Gintung

Musibah Tanggul Situ Gintung

Kami pengasuh dan semua pengunjung Blog Serba-serbi  MemSakri  menyampaikan rasa simpati dan turut berduka-cita sedalam-dalamnya kepada semua korban jebolnya tanggul Situ Gintung yang terjadi pada hari Jum'at tanggal 27-3-09 dini hari.

Semoga yang meninggal dunia diampuni segala dosanya dan diterima amal ibadahnya dan ditempatkan di tempat yang layak di sisi Tuhan dan  yang ditinggalkannya diberi keikhlasan dan kesabaran. Dan semua yang   kehilangan harta bendanya mendapat penggantian yang lebih baik dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Amiin


Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang!
Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah

Jumat, 06 Maret 2009

Tuhan yang mengaturnya

Tuhan yang mengaturnya

Suatu pengalaman waktu Revolusi. Kisahnya tidak seru dan sederhana tapi bila kita renungkan lebih mendalam ia dapat meningkatkan keimanan. Inilah kisahnya:


Setelah Indonesia merdeka, di dalam negeri kita dihadapkan kepada persoalan gerakan yang hendak mendirikan negara islam, yang dikenal dengan gerakan D.I. Mereka melakukan kekacauan-kekacauan, terutama di daerah-daerah pedalaman. Maka tugas TNI-lah untuk menumpas gerakan-gerakan ini, sehingga sering terjadi pertempuran kecil-kecilan.

Pada tgl. 2 Juli 1947 Belanda melakukan Aksi Militernya yang ke-1. Maka TNI itu selain memberantas D.I sekarang harus berhadapan dengan tentara Belanda. Ini tidak berlangsung lama, karena atas campur tangan Internasional lahirlah kesepakatan Renville. Republik Indonesia kehilangan beberapa daerah, kecuali Sumatra dan Pulau Jawa (minus daerah-daerah yang diduduki Belanda, yang sebagian besar berupa beberapa kota). Divisi Siliwangi "Hijrah" ke Jogja, dan saya waktu itu bergabung dengan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar).

Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda melanggar kesepakatan Renville dengan melakukan Aksi Militernya yang ke-2. Jogja dapat mereka duduki Bung Karno dan Bung Hatta mereka tawan. Karena itu pasukan yang telah Hijrah kembali ke daerahnya masing-masing untuk melanjutkan perang gerilyanya. Saya pada waktu itu sedang terbaring di Rumah Sakit Magelang karena sakit, akan tetapi dalam keadaan hampir sembuh. Saya segera menggabungkan diri dengan Batalyon Sudarman yang bermarkas di Magelang untuk ikut kembali ke Jawa Barat. (Waktu itu setiap batalyon diberi nama komandan batalyonnya)

Untuk menghindari pengintaian tentara Belanda dari udara, maka perjalanan pulang dilakukan melalui perkampungan, hutan dan kadang-kadang pegunungan, siang hari atau malam hari Setelah kira-kira 40 hari perjalanan kami tiba di tempat tujuan Batalyon Sudarman, yaitu Langkaplancar, suatu tempat di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Timur. Disana sudah ada kesatuan D.I. yang jumlahnya kecil. Mungkin karena jumlah mereka kecil mereka mau menerima kesepakatan untuk "damai". Setelah beberapa hari disana saya minta izin kepada Mayor Sudarman untuk pulang ke Tasikmalaya menemui orang tua dan kemudian untuk bergabung kembali dengan TRIP yang mungkin sudah kembali di sekitar Tasikmalaya.. Oleh beliau saya diperkenalkan kepada seorang anggauta D.I. dari bagian Perbekalan yang juga akan ke Tasik untuk mencari dana.. Namanya saya lupa lagi maka untuk mudahnya sebut saja Hasan. Maka berangkatlah saya dengan Hasan dan dua orang temannya menuju daerah Tasikmalaya.


Perjalanan dilakukan melalui perkampungan (daerah "kekuasaan" D.T.) dan selama perjalanan kami menginap di pos-pos mereka. Saya diperkenalkan kepada teman-teman Hasan sebagai saudaranya dan sebagai anggauta mereka. Setelah berjalan beberapa hari tibalah kami di pinggiran kota Tasikmalaya. Karena tidak tahu situasi Tasik waktu itu, kami menuju rumah kerabat saya untuk istirahat dan mengabarkan kehadiran saya pada orang tua agar mereka tidak terkejut mendengar kehadiran saya sacara tiba-tiba. Esoknya saya dijemput ibu dengan naik delman. Keharuan perjumpaan tidak perlu diceritakan lagi. Hasan ikut mengantarkan ke rumah di Sukalaya. Kami mengucpkan banyak-banyak terima kasih kepadanya dan sebelum meninggalkan kami ia bercerita bahwa ia itu pernah jadi santri (masantren) pada aki Sukalaya Ajengan Fahrurodji, yaitu kakek saya dan Hasan mengenaliku sebagai cucunya. Karena itulah ia "mengantarkan" saya pulang.


Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar bahwa Batalyon Sudarman mendapat serangan dari tentara Belanda, dan kesempatan ini digunakan juga oleh gerombolan D.I. untuk ikut menyerang dankarenanya banyak prajurit TNI yang gugur. Serangan itu terjadi kira-kira 3 hari setelah saya meninggalkan Batalyon itu. Selain dari pada itu di daerah-daerah pedalaman mulai terjadi gangguan-gangguan dari D.I. Kalau waktu itu saya masih ada di sana ceritanya mungkin akan lain.. Demikian pula bila kepada anggauta-anggauta D.I. di pos=pos mereka itu Hasan tidak mengarang cerita mengenai saya, mungkin saya tidak ak sampai ke tujuan.. Maha Suci Allah. Beliau menhendaki lain. Waktu saya tiba di Langkaplancar Tuhan telah "menempatkan" Hasan disana untuk "menjemputku", mengenaliku dan mengantarku pulang dengan aman. Semoga Hasan ini diterima amal salehnya Amiin.


Atas peristiwa in saya hanya bisa mengucapakan: Segala puji bagi Allah, dan Allah Maha Kuasa Semoga kejadian yang sederhana ini bisa meningkatkan keimanan kita semua. Amiin

.



Berbagi video sambil chatting dengan teman di Messenger.
Sekarang bisa dengan Yahoo! Messenger baru.

Minggu, 15 Februari 2009

Gambar To'ong


Gambar To'ong

Tontonan anak-anak dahulu

Gambar toong adalah gambar yang di-toong Kata to'ong berasal dari kata no'ong yang berarti melihat melalui lubang . Jadi gambar toong adalah gambar yang dilihat melalui lubang. Alatnya itu terdiri dari kotak kayu yang lebarnya kira-kira 50 cm dan tingginya 60 cm. Ada yang diberi kaki atau kalau tidak berkaki diletakkan di atas meja kecil. Kotak itu terdiri dari dua bagian, yaitu bagian atas ialah ruang untuk menyimpan beberapa gambar dan ruang bawah tempat gambar dito'ong. Bedanya ruang atas dengan ruang bawah ialah kalau ruang atas itu bentuknya pipih sedang ruang bawah berbentuk kamar, dan dilengkapi 2 lubang tempat anak-anak noong (melihat ) gambar. Lubang-lubang itu berbentuk teropong yang dilengkapi dengan kaca pembesar. Dengan demikian gambar-gambar itu akan terlihat lebih besar dipada sebenarnya.

Setelah ada anak yang no'ong, mulailah gambar pertama ditarik dari ruang atas ke ruang bawah, lalu si emang-emang itu memainkan organ (butut) untuk beberapa saat. Sebenarnya bukan memainkan tapi hanya menarik dan mendorong saja sehingga bunyinya cuma: nguk-ngék... nguk-ngék, nguknguk-ngék ...nguk-nguk-ngék. Kemudian berhenti lalu ia bersenandung menceritakan yang ada di dalam gambar. Ceritanya ia karang sendiri. Kemudian ia menarik gambar yang kedua, ketiga dan seterusnya, sebayak gambar yang tersedia. Mengganti-ganti gambar itu seperti mengganti-ganti dekor diruang Foto Studio.

Di bawah adalah foto gambar to'ong pada waktu mulai langka dan tidak sebagus yang dulu-dulu waktu masih semarak. Dalam foto itu si Emang sedang bercerita, yang dilantunkan. Di depan mulutnya ia pasang "mike" yang berupa entah cangkir seng yang agak besar entah kaleng susu yang kosong agar suaranya agak menggema

Gambar-gambarnya itu berwarna. Ada gambar perang di Tiongkok, di Arab dan lain-lain, entah dari mana mereka itu mendapatkannya. Tapi memang gambarnya bagus-bagus dan mengasikkan untuk anak-anak waktu itu (termasuk saya sendiri). Selesai menonton biasanya anak-anak itu ramai "meneruskan" cerita gambar-gambar itu menurut daya khayalnya masing-masing. Jadi ada baiknya juga gambar to'ong ini karena bisa melatih daya khayal anak-anak. Kalau kepada cerita dalam gambar hidup (bioskop) anak-anak itu tidak bisa memberi tambahan pengkhayalan karena ceritanya sudah dipola. Selain daripada itu nonton gambar to'ong terjangkau bagi anak-anak kampung. Sekali nonton bayarnya haya 1 (satu) sen. ( 1 sen = 1/100 rupiah!, Sekarang satuan sen itu sudah tidak ada ).

ncari semua teman di Yahoo! Messenger?
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang!

Jumat, 13 Februari 2009

Pengaruh Lingkungan


Ngoprek

Pengaruh Lingkungan


Bila benda yang kita miliki tidak lagi bekerja sebagai mestinya atau rusak, maka kita dihadapkan kepada tiga pemikiran, yaitu

1. membeli yang baru,

2. dibawa ke tempat reparsi untuk meminta memperbaikinya, atau

3. mencoba memperbaikinya sendiri dengan landasan pengetahuan yang kita miliki mengenai benda yang rusak itu

Pola berpikir itu mungkin karena kebiasaan, bakat yang kita miliki, atau pengaruh pendidikan atau lingkungan.. Saya sendiri "menganut" pola berpikir yang ke tiga, baik benda itu mahal ataupun murah Saya tidak tahu apakah ini karena bakat, atau pendidikan sejak kecil, baik di sekolah maupun di rumah atau/dan pengaruah lingkungan.

Kami hidup di kampong pinggiran kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Kami dibiasakan makan bersama. Ayah dan ibu di kedua ujung meja. Masing-masing mempunyai piring sendiri-sendiri. Piring ayah khusus, piring seng beremil yang memupunyai pegangan dan anak-anak juga piring seng beremail yang diberi inisial nama masing-masing. Sehabis makan masing=maing piring itu harus kami cuci sendiri. Selain itu kamipun diberi tugas bergilir untuk menyapu lantai dan halaman dan membersihkan kursi meja, memberi makan burung-burung piaraan dan lain-lain.

Hubungan kami dengan tetangga sangat dekat. Diantara tetangga itu ada yang kami ( anak-anak) memanggilnya mang Atjeng ( tj = c ). Ia dalam pandangan kami sangat cekatan dan terampil. Bila ada barang (apa saja) yang rusak, orang tua kami menyuruh saya membawanya ke mang Aceng itu untuk minta memperbaikinya. Selama ia bekerja saya selalu ada didekatnya dan memperhatikan apa yang ia kerjakan. Sangat menyenangkan, karena sambil bekerja ia juga memberi penjelasan mengapa barang itu rusak dan bagimana memperbaikinya. Cara ia bekerja sangat mengesankan dan tanpa disadari mulai mempengaruhi saya. Ia seorang guru yang baik

Saya mulai "tuturuti" suka mengutak-atik mainan-mainan yang saya miliki. Mulai mencoba memperbaiki mainan yang rusak, atau kadang-kadang membongkar dahulu mainan yang tidak apa-apa kemudian mencoba memperbaikinya. Ada yang berhasil dan ada yang tidak, akan tetapi sangat mengasikkan. Adik-adik saya suka minta tolong padaku untuk memperbaiki mainannya yang rusak. Saya menjadi orang yang berguna bagi adik-adik dalam hal mengoprek mainan.

Aktivitas ngoprek ini berlangsung terus dan dengan jenisnya yang semakin bertambah sesuai dengan perkembangan pendidikan dan umur

Ada kegemaran lain yang menjadi penyokong bagi kegiaan ini (yang telah menjadi "hobby") yaitu mengumpulkan alat-alat. Maka dirumah itu selain ada meja kerja untuk kegiatan profesi kantoran ada meja lagi yang penuh peralatatan untuk profesi bongkar pasang itu..

Setelah berkeluarga peran adik-adik dahulu diganti oleh para tetamgga yang meminta tolong untuk memperbaiki alat-alat mereka yang rusak yang umumnya alat-alat rumah tangga listrk. Lumayan bisa bermamfaat bagi orang lain, walaupun sedikit. Dan ini akan saya teruskan selama mata dan tangan memungkinkan melakukan kegiatan itu. InsyaaAllah.


Waktu kanak-kanak bongkar speda-motor boongan, udah gede bongkar speda-motor beneran.






Foto ini dibuat pada tanggal 12-4-1958

Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang!
Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah