blog-indonesia.com

Minggu, 19 Desember 2010

Fatamorgana

Fatamorgana

Fatamorgana adalah sebutan kepada hal yang bersifat khayal yang tidak mungkin dapat dicapai. Hal ini diambil dari gejala optis pada suatu permukaan yang sangat panas yang tampak mengkilat seperti pemukaan air. Hal inipun sudah menjadi bagian dari cerita-cerita petualangan di padang pasir, yaitu dimana seseorang yang tersesat dan kepayahan, kelaparan dan kehausan melihat di kejauhan ada genangan air. Akan tetapi setelah didekati genangan air itu menghilang. Pada cerita-cerita demikian itu dikesankan bahwa penglihatan orang itu sebagai penglihatan khayal, atau halusinasi orang yang kepayahan. Akan tetapi tidak demikian halnya. Kejadian-kejadian itu benar ada dan bisa dialami oleh orang yang segar bugar. Kejadian itu adalah merupakan gejala alam yang disebut mirage.


Gambar 1

Fatamorgana adalah peristiwa mirage.

Mirage itu adalah suatu ilusi atau kekeliruan penglihatan, yaitu suatu peristiwa yang kadang-kadang terlihat di gurun pasir atau di atas jalan aspal yang rata atau trotoir, yang tampak seperti suatu genangan air atau suatu cermin, sedangkan benda-benda yang jauh letaknya, misalnya pepohonan, akan terlihat terbalik.Hal ini disebabkan pemantulan dan pembiasan sinar cahaya oleh lapisan udara yang panas atau kerapatan udara yang berbeda .

Gambar 2

Azas utama yang bekerja dalam hal ini adalah suatu kenyataan bahwa indeks bias udara bertambah bila kerapatan (massa jenis) udara bertambah besar. Udara panas mempunyai kerapatan yang lebih rendah, dan dengan demikian mempunyai inddeks refraksi yang lebih kecil daripada udara yang lebih dingin.

Gambar Gb.2. di atas memperlihatkan pengaruh dari suhu udara yang tidak seragam pada lintasan cahaya di udara.Sebagaimana diperlihatkan oleh diagram itu, cahaya akan cenderung membelok ke udara yang lebih dingin. Dalam kenyataannya pembelokan ini sering terjadi bila terdapat perbedaan suhu yang relatif besar.


Gambar 3

Mirage yang tampak pada Gb.3 adalah mirage yang paling umum terpantau dan disebut inferior mirage (mrage bawah) karena mirage-nya itu tampak di bawah benda yang sebenarnya. Dalam peristiwa “genangan air” yang terlihat di atas jalan raya yang panas, obyek yang sebenarnya adalah langit biru dan mirage-nya adalah refleksi (bayangan) langit pada jalan raya Dapat juga terjadi, walaupun jarang,.distribusi suhu pada atmosfir yang tidak biasa, yang disebut pembalikan suhu. Dalam peristiwa ini, lapisanudara panas terjadi di atas lapisan udara dingin, yang ada di atas permukaan air. Bila terdapat derajat suhu yang cukup, maka mirage atas (superior mirage) akan terjadi. Mirage yang demikian itu dapat dilihat pada gambar Gb.4

Gambar 4

Perlu ditekankan disini adalah bahwa terjadinya inferior mirage maupun superior mirage disebabkan oleh kecepatan perubahan suhu yang tinggi dari udara. Kedua nama yang berbeda itu didasarkan penglihatan apakah benda yang sebenarnya itu ada di atas atau dibawah...

Sumber bacaan::1.Light and Color: R. Daniel Overheim & David L Wagner, 2. Optics: F.W. Sears

Rabu, 01 Desember 2010

Renungan 3

Renungan 3

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al Fatihah 5; 6; 7 )


Petunjuk ke jalan yang lurus : Sikap terhadap Ibu – Bapa (3)

1. Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo`a: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". ( Al Ahqaaf : 15 )


2. Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. ( Al Israa’ : 23 )


3. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". ( Al Israa’ : 24 )


Indung tunggul rahayu, bapa tangkal darajat

( ibu tonggak keselamatan , ayah pohon kebahagiaan )

Jumat, 22 Oktober 2010

Dunia Burung

Dunia Burung

Bertelur dan Mengeram.

Pada umumnya burung-burung itu setia di dalam berkeluarganya. Bila sang betina sudah dibuahi, mereka berdua bersiap-siap untuk menyongsong keturunannya. Mereka bersama-sama kemudian meyiapkan sarang untuk meletakkan telur-telurnya. Yang mengeram telur-telurnya itu pada umumnya sang betina, akan tetapi ada juga yang melakukannya dengan bergiliran antara “sang isteri” dengan “sang suami”. Demikian pula yang dilakukannya dalam membesarkan anak-anaknya. Sekali lagi itu pada umunya. Akan tetapi ada juga kekecualian.

Burung Emu adalah burung yang terbesar di dunia. Ia hidup di padang rumput tropis di Ustralia. Tingginya mencapai 1,50 m dan beratnya bisa mencapai 50 kg. Makanannya rerumputan kering, dedaunan, bunga-bungaan, biji-bijian dan kadang-kadang serangga, kadal, cecak dan binatang lainnya yang kecil-kecil. Kaki burung-buruing umumnya berjari 4 buah sedang jari kaki emu 3 buah.

Burung-burung emu membesarkan anak-anaknya adalah urusan yang jantan. Lebih dari dua bulan emu jantan harus mengeram telur-telurnya yang jumlahnya bisa mencapai 18 buah, yang diletakkan di atas rerumputan. Setelah telur-telurnya itu menetas, tugas sang jantan itu dilanjutkan dengan melindungi dan membesarkannya.. Bila ada bahaya mengancam si ayah itu memberi tahu anak-anaknya yang dengan cepat bersembunyi di bawah rerumputan.. Si ayah kemudian membuat akal untuk mengalihkan perhatian si pengancam itu. Untuk mengecoh pengancam itu ia lari ke arah yang menjauhi tempat persembunyian anak-anaknya dengan kecepatan yang bisa mencapai kurang lebih 48 km/jam

Emu ini termasuk burung yang tidak bisa terbang. Burung lain yang seperti emu ini ialah burung yang disebut Ostrich ( Burung Unta ) yang hidup di Afrika.


Lain lagi halnya dengan burung kúk-kuu yang hidup di daerah Eropa. Si betina tidak mengeram sendiri tapi tidak juga menyuruh burung jantan untuk mengeramnya, melainkan “menitipkan tanpa persetujuan”
secara sembunyi-sembunyi pada burung lain. Saat yang mempunyai sarang tidak ada ia meletakkan telurnya disamping telur-telur burung yang punya sarang itu. Yang sangat mengherankan ialah warna telurnya itu bisa sama dengan warna telur-telur si burung pemilik sarang, Kemudian satu telur pemilik sarang ia buang atau kadang-kadang ia makan agar jumlah telurnya tidak berubah, sehingga sipemilik sarang tidak curiga atas kehadiran telur asing itu. Pintar juga si “parasit” itu. Kemudian ia mencari burung lain yang juga sedang mengeram telur-telurnya dan melakukan hal yang sama. Jumlah telur yang ia titipkan itu tidak sedikit, karena telur-telurnya itu kadang-kadang bisa mencapai jumlah 20 butir. Ia benar-benar seekor benalu

Bila telur-telur itu sudah menetas, maka beberapa anak burung pemilik sarang akan mengalami nasib yang malang. Dengan punggungnya yang besar anak burung kǔًًk-kuu itu akan menggeser-geser beberapa anak burung lainnya ke pinggir sarang dan menyenggolnya hingga jatuh dari ketinggian pohon dan mati. Hal ini ia lakukan dengan harapan jatah anak-anak burung yang telah dibunuhnya menjadi bagiannya. Ia lakukan ini secara naluriah. Bila keluarga burung itu melakukan perjalanan yang agak jauh meninggalkan sarang, anak burung kǔًًk-kuu ini tidak ikut dan ia sekarang memisahkan diri dari induk pengasuhnya itu.



Foto di atas menunjukkan seekor burung pipit yang kecil mungil sedang memberi makan anak burung kǔًًk-kuu “parasit”. Perhatikan perbandingan besarnya “induk asuh” dengan “anak penyusup” itu.


Bila penasaran ingin tahu suara burung kǔًًk-kuu itu, dengarkan saja jam kukuk saat berbunyi memberitahu waktu.


Disadur dari: 1. Heinz Sielmann: "Baby's van de Wildernis"
2 Bilogy: "H.R. Hewer cs."



Selasa, 21 September 2010

Pelopor Rekaman Suara

Pelopor Perekaman Suara
Seorang cucu yang baru belajar main gitar merengek-rengek pada kakeknya untuk merekam permainan gitarnya.Dengan terbungkuk-bungkuk dan agak cingked sang Kakek mengambil mikrofon dan memasangkannya pada taperecorder. Dan mulailah si cucu bermain gitar. Setelah selesai dan rekamannya diputar kembali maka bergembiralah seluruh isi rumah mendengarkan permainan gitar sang cucu tercinta itu. Begitu mudah merekam dan mendengarkan rekamannya itu.

Anda sering melihat pada televisi seorang gadis yang telinganya ditutupi earphone bernyanyi didepan mikrofon di dalam kamar berkaca sedang dikamar depannya beberapa orang sibuk mengatur peralatan elektronik agar rekamannya itu berhasil baik. Merekam suara itu sekarang bukan hal yang luar biasa lagi. Tapi tahukah Anda orang yang berjasa dalam merintis merekam suara itu? Ia bukan seorang sarjana akan tetapi seorang peneliti dan pekerja yang tekun. Ia adalah Thomas Alva Edison (11 Februari 1847 - 18 Oktober 1931). Ia telah menemukan kurang lebih 1200 (seribu dua ratus) penemuan, diantaranya: telegraf otomatik, lampu pijar, fonograf, generator, kereta elektrik, gambar hidup, baterai alkali dan banyak lagi. Untuk penemuannya itu ia mempunyai slogan bahwa hasilnya itu adalah karena 2% inspirasi dan 98% transpirasi (hasil kerja keras}.
Diantara penemuannya itu adalah merekam dan mengembalikan suara.
Secara kebetulan waktu ia berbicara di depan mulut corong-suara tangannya (jarinya) merasakan ada geteran pada membran yang terdapat di ujung corong itu. Untuk suara yang berbeda getarannyapun terasa berbeda pula. Ia berfikir kalau demikian mestinya tiap suara memiliki geterannya sendiri. Kalau getaran itu bisa di kembalikan (dibangkitkan) apakah akan terjadi suara? Ia mulai berfikir bagaimana caranya “mencetak” getaran suara itu untuk kemudian bisa dikembalikan menjadi suara lagi. Kemudian ia melakukan percobaan-percobaan.
Ia menempatkan jarum pada membran corong suara itu dan diletakkan pada selembar kertas timah. Sambil berbicara di depan corong kertas timah itu ia tarik perlahan-lahan. Dengan demikian jarum itu akan menusuk-nusuk kertas timah yang berjalan, dengan gerakan yang sesuai dengan getaran yang ditimbukan suara. Maka pada kertas timah tejadilah alur getaran suara. Waktu jarum itu digerakkan kembali dari awal alur sampai ujung alur maka benarlah terdengar kembali suara yang telah diucapkan itu. Dengan melakukan percobaan berulang-ulang akhirnya ia sampai kepada pembuatan alat yang ia sebut phonograph (bahasa latin yang berarti tulisan suara).
Alat itu terdiri dari silinder yang dililiti kertas timah dengan sebuah corong suara yang diujungnya terdapat membran yang dilengkapi jarum dan diletakkan di atas kertas timah itu. Sambil berbicara di depan corongsuara silinder itu di putar perlahan-lahan dengan tangan. Maka setelah selesai berbicara maka akan terlihat alur jarum pada kertas timah, yaitu tulisan suara yang diucapkan didepan corong itu. Bila kemudian jarum itu diletakkan kembali pada awal alur dan silinder diputar perlahan-lahan maka suara itu akan terdengan kembali. Inilah alat perekam suara pertama.
Pada foto seorang penyanyi (primadona Marie Hyppolyte Rozie) sedang merekam sebuah aria (nyamyian tunggal) pada kertas timah yang dililitkan pada sebuah silinder. Ia menyanyi sambil memutarkan silinder itu. Pada pemutaran kembali suaranya itu akan terdengar dan karena pemutarannya itu dilakukan dengan tangan, maka suara yang akan terdengar itu akan tergantung pada kecepatan memutarkannya. Bila pemutarannya lambat akan terdengan suara yang redup dan bila pemutarannya cepat suaranya akan terdengar nyaring melengking.



Gambar di atas itu adalah fonograf yang lebih baik tapi masih sangat sederhana dan yang disampingnya adalah alat yang disebut gramophone ciptaan Emile Berliner. Ia mengganti bentuk silinder dengan kertas-timahnya dengan bentuk piring.




Fonograf Edison His Master Voice

Sekarang perekaman maupun penyiaran suara sudah sangat canggih, terutama dengan menggunakan alat-alat elektronik. Akan tetapi secanggih apapun alat perekaman dan penyiaran suara , bila tidak ada pelopornya yang canggih itu tidak akan terjadi.


Alat Perekam Pita
Kalau Edison dahulu dengan fonografnya merekam suara atau bunyi menggunakan kertas timah, maka kita sekarang menggunakan pita maknetik pada alat perekam-suara elektrik seperti taperecorder. Dengan menggunakan alat ini bila kita berbicara di depan mikrofon, getaran-getaran suara diubah menjadi arus elektrik dan mengubah tenaga magnetik dari kepala-perekam (istilah umumnya: “head”). Oleh head ini, perubahan itu dialihkan kepada pita magnetik yaitu pada saat pita itu bergerak melewatinya. Fungsi head terhadap pita maknetik disini seperti fungsi jarum fonograf Edison pada kertas timah.
Untuk mendengarkan hasil rekaman itu, pita maknetik itu kita putar kembali dan saat ia melewati “head”, besar arus listrik semula disalurkan ke pengeras-suara (loudspeaker) dan menghasikan bunyi yang telah kita rekam itu


Bibliografi: 1. Life Science Library: Sound And Hearing
2 Orrin E Dunlap Jr.: Radio. 100 Gtoote Baanbrekers.
3. Dr. F. Houk Law.: Bouwmeester Der Beschaving

Sabtu, 18 September 2010

Si Kabayan Berpuasa

Si Kabayan Berpuasa

Pada bulan puasa di Kabayan juga ikut berpuasa. Ia bertanya pada seorang kiai.
Kabayan: “Pak Kiai kalau sedang puasa saya kelupaan makan sesuatu, apakah batal puasanya?”
Pak Kiai: “Oh kalau kelupaan mencicipi sesuatu mah tidak batal. Puasanya bisa diteruskan”
Sejak itu dalam bulan puasa ia ikut puasa, akan tetapi kemanapun ia pergi ia selalu membawa bungkusan nasi. Waktu ada yang bertanya”
“Kabayan berpuasa tidak?”
Ia menjawab: “Ya berpuasa”
Tanya: “Mengapa membawa bungkus nasi?”:
Ia menjawab: “Bisi poho “: ( Kalau-kalau lupa )
:
Maksudnya. Kalau tidak bawa nasi saat ia lupa ia tidak bisa makan apa-apa. Dasar ahli makan.

Rabu, 01 September 2010

Salah Kaprah

Salah Kaprah

Minal‘aidin wal faizin
Mohon maaf lahir-batin

Menjelang Lebaran orang orang sudah ramai berkiriman surat dengan tulisan “Minal ‘aidin wal faizin” disambung dengan “Mohon maaf lahir batin”. Demikian pula pada hari Lebaran dan beberapa hari sesudahnya orang-orang saling menyapa dengan ucapan itu sambil bersalaman. Sedemikian kentalnya kedua ucapan itu sehingga orang beranggapan bahwa arti “minal aidin wal faiizin” itu sama dengan “mohon maaf lahir batin”. Ini sama sekali tidak benar.

Arti minal ‘aidin wal faizin:
Minal ‘aidin = termasuk orang yang merayakan Hari Raya
Wal faizin = dan orang-orang yang berhasil (menang)
Jadi “Minal ‘aidin wal Faiizin” berarti “termasuk orang-orang yang bisa merayakan Hari Raya (Id) dan orang-orang yang berhasil (menang)”
Jika hanya ini yang kita ucapkan rasanya tidak tepat, tidak berujung-pangkal. Ucapan ini seharusnya didahului oleh: “Ja’alanallahu wa iyyakum” yang artinya “semoga Allah menjadikan kami dan kalian”, kemudian baru disambung dengan “minal ‘aidin wal faizin”. Maka ucapan seluruhnya menjadi:
“Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin”.
“Semoga Allah menjadikan kami dan kalian termasuk orang-orang yang bisa merayakan Hari Raya (Id) dan orang-orang yang berhasil (menang)”

Ucapan yang lebih baik pada teman kita saat berlebaran pada hari Raya (Id) itu ialah: “Takobbalalloohu minnaa wa mingkum, syiyaa manaa wa syiyaa makum” yang artinya: “Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian syaum kami dan syaum kalian” dan boleh disambung dengan : “Mohn maaf lahir bathin”, karena kalau ini tidak diucapkan rasanya kurang sreg, terasa dosa kita saabreg tidak cair.
Arti ‘Idul Fitri sendiri adalah: Id artinya “hari raya atau merayakan”, dan Fitri artinya “berbuka puasa”. Jadi idul fitri adalah “Hari raya berbuka puasa”

Maaf memaafkan.
Saling maaf-memaafkan sebaiknya dilakukan menjelang puasa, yaitu membersihkan diri menghadapi bulan puasa. Di kampung-kampung membersihkan diri sebelum masuk bulan puasa dilakukan kaum wanita secara salah kaprah.. Mereka secara perorangan atau rame-rame mandi dan “diangir atau kuramas”. Mereka itu jadinya membersihkan badan, padahal yang seharusnya itu membersihkan diri dari dosa-dosa terhadap sesama teman sebelum melaksanakan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan

(Acuan: “BUKU TUNTUNAN SHAUM DAN ZAKAT” diterbitkan oleh Muhammadiyah cabang Bandung)