blog-indonesia.com

Selasa, 01 September 2009

Salah Kaprah

Salah Kaprah

Minal 'aidin wal faizin

Mohon maaf lahir-batin

Menjelang Lebaran orang orang sudah ramai berkiriman surat dengan tulisan "Minal 'aidin wal faizin" disambung dengan "Mohon maaf lahir batin". Demikian pula pada hari Lebaran dan beberapa hari sesudahnya orang-orang saling menyapa dengan ucapan itu sambil bersalaman. Sedemikian kentalnya kedua ucapan itu sehingga orang beranggapan bahwa arti "minal aidin wal faiizin" itu sama dengan "mohon maaf lahir batin". Ini sama sekali tidak benar.

Arti minal 'aidin wal faizin:

Minal 'aidin = termasuk orang yang merayakan Hari Raya

Wal faizin = dan orang-orang yang berhasil (menang)

Jadi "Minal 'aidin wal Faiizin" berarti "termasuk orang-orang yang bisa merayakan Hari Raya (Id) dan orang-orang yang berhasil (menang)"

Jika hanya ini yang kita ucapkan rasanya tidak tepat, tidak berujung-pangkal. Ucapan ini seharusnya didahului oleh: "Ja'alanallahu wa iyyakum" yang artinya "semoga Allah menjadikan kami dan kalian", kemudian baru disambung dengan "minal 'aidin wal faizin". Maka ucapan seluruhnya menjadi:

"Ja'alanallahu wa iyyakum minal 'aidin wal faizin".

"Semoga Allah menjadikan kami dan kalian termasuk orang-orang yang bisa merayakan Hari Raya (Id) dan orang-orang yang berhasil (menang)"

Ucapan yang lebih baik pada teman kita saat berlebaran pada hari Raya (Id) itu ialah: "Takobbalalloohu minnaa wa mingkum, syiyaa manaa wa syiyaa makum" yang artinya: "Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian syaum kami dan syaum kalian" dan boleh disambung dengan : "Mohn maaf lahir bathin", karena kalau ini tidak diucapkan rasanya kurang sreg, terasa dosa kita saabreg tidak cair.

Arti 'Idul Fitri sen diri adalah: Id artinya "hari raya atau merayakan", dan Fitri artinya "berbuka puasa". Jadi idul fitri adalah "Hari raya berbuka puasa"

Maaf memaafkan.

Saling maaf-memaafkan sebaiknya dilakukan menjelang puasa, yaitu membersihkan diri menghadapi bulan puasa. Di kampung-kampung membersihkan diri sebelum masuk bulan puasa dilakukan kaum wanita secara salah kaprah.. Mereka secara perorangan atau rame-rame mandi dan "diangir atau kuramass". Mereka itu jadinya membersihkan badan, padahal yang seharusnya itu membersihkan diri dari dosa-dosa terhadap sesama teman sebelum melaksanakan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan

Di Arab mah setelah lebaran teh "lempeng' teu aya naon-naon, terus melakukan kegiatan sehari-hari seperti bisa. Tida ada pulang kampung atau mudik seperti di Indonesia dan tidak ada kumpul-kumpul keluarga-besar atau keluarga kantoran yang disertai oleh makan-makan sekenyang-kenyangnya, seolah-olah menebus kekurangan makan selama bulan puasa. Dasar Indonesia kaya akan budaya.

(Acuan: "BUKU TUNTUNAN SHAUM DAN ZAKAT" diterbitkan oleh Muhammadiyah cabang Bandung)



Mencari semua teman di Yahoo! Messenger?
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang!

Sabtu, 22 Agustus 2009

Shaum dan Sahur

Shaum (puasa) dan Sahur

Sebelum kita melaksanakan shaum (puasa) kita melakukan sahur dahulu, yaitu makan dan minum seperlunya sebagai persiapan melakukan shaum.

Allah swt. Berfirman:

" ...., dan makan-minumlah hingga tampak bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar." (Q.S. Al-Baqarahb187)

Makan sahur merupakan tuntunan bagi orang-orang yang bershaum. Hal ini dijelaskan dalam hadis: "Bersahurlah kamu karena makan sahur itu mengandung berkah." (Hadis Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim).

Cara bersahur yang baik ialah mengakhirkannya, yaitu dilakukn saat mendekati waktu shaum, seperti yang biasa dilakukan Rasullullah saw.

Terbit fajar adalah saat dimulainya shaum, yaitu sebelum adzan subuh. Shaum diakhiri jika matahari sudah terbenam.

Rasullullah bersabda: "Apabila malam sudah hampir tiba, hari sudah hampir habis dan matahari sudah terbenam, maka itulah saatnya berbuka puasa." (Hadis Riwayat Bukhari-Muslim ).

Berbuka yang baik adalah dengan menyegerakannya. Artinya jika tiba saat berbuka tidak ada alasan apapun yang dibenarkan untuk terus bershaum. Cara yang baik dalam berbuka puasa adalah dimulai dengan minum seperlunya dan makan makanan yang manis-manis , terutama buah-buahan.

Setelah berbuka puasa barulah kita melakukan shalat magrib dan setelah itu barulah kita makan.

(Disadur dari: "Mutiara Ramadhan" oleh Majis Ulama Indionesia Jawa Barat. Penerbit PT Widyawacana Prima, 1997.)



Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. br> Cepat sebelum diambil orang lain!

Senin, 10 Agustus 2009

Puasa itu waib hukumnya

Puasa itu wajib hukumnya

Yaitu wajib bagi yang :

1. muslim,

2. sudah balig,

3. berakal atau waras,

4. suci dari haid atau nifas dan

5. tidak sedang dalam perjalanan jauh.


Adapun perintah puasa itu tercantum dalam surat Al Baqarah ayat 183, 184 dan 185 seperti yang tertera di bawah ini:

1. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Al Baqarah : 183)

2. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Al Baqarah: 184)

3. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Al Baqrah 185).

_____________

Bagi pengunjung blog Serba-serbi MemSakri ini kami ucapkan selamat menunaikan ibadah syaum. Semoga ibadah Anda itu diterima Allah swt. Amiin.